Di Ternate, Pemerintah Kota bersama Harita Nickel kembali menggelar Earth Hour 60+ di Benteng Oranje pada 25 April. (Dok/Harita Nickel)
TERNATE, GO RMC.ID- Upaya menjaga keberlanjutan lingkungan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Di Kota Ternate hingga pesisir Desa Kawasi, Pulau Obi, praktik sederhana yang dilakukan secara konsisten justru menjadi kunci perubahan.
Semangat ini tercermin dalam peringatan Earth Hour yang terus berkembang dari aksi simbolik menjadi gerakan perubahan perilaku. Di Ternate, Pemerintah Kota bersama Harita Nickel kembali menggelar Earth Hour 60+ di Benteng Oranje pada 25 April.
Selama satu jam pemadaman lampu, masyarakat diajak tidak hanya memberi ruang bagi bumi untuk “beristirahat”, tetapi juga membangun kebiasaan hemat energi dalam kehidupan sehari-hari.
“Kesadaran menjaga bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana di rumah,” ujar Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly.
Selain pemadaman lampu, kegiatan juga diisi dengan edukasi pengurangan sampah plastik melalui pembagian 1.000 kantong kain, pentingnya ruang terbuka hijau, serta penggunaan energi yang lebih bijak.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate, Muslih Muhammad, menilai kolaborasi pemerintah dan sektor swasta menjadi faktor penting dalam penguatan pengelolaan lingkungan.
“Kolaborasi antara pihak swasta dan pemerintah mendorong implementasi pengelolaan lingkungan di lapangan,” katanya.
Sementara itu, di Desa Kawasi, Pulau Obi, upaya serupa diwujudkan melalui aksi bersih pantai yang melibatkan warga, karyawan Harita Nickel, serta unsur TNI dan Polri.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 3,2 ton sampah berhasil dikumpulkan dari garis pantai dan dibawa ke fasilitas Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) untuk diproses lebih lanjut.
Tak hanya aksi bersih, kegiatan juga diikuti edukasi terkait dampak sampah terhadap lingkungan laut.
“Botol plastik bisa bertahan hingga ratusan tahun, sementara styrofoam tidak mudah terurai. Jika masuk ke laut, dampaknya akan kembali ke manusia,” ujar Kevin, fasilitator kegiatan.
Pendekatan partisipatif diterapkan dengan membagi peserta dalam kelompok dan memberikan tantangan, seperti pengumpulan sampah terbanyak hingga kategori kelompok paling kompak. Metode ini dinilai efektif meningkatkan keterlibatan masyarakat, termasuk kelompok ibu-ibu yang tampak antusias mengikuti kegiatan.
Salah satu warga Kawasi mengaku kegiatan tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan pantai.
“Melalui kegiatan ini, kami jadi lebih sadar pentingnya menjaga kebersihan pantai. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan,” ujarnya.
Head of Technical Support Harita Nickel, Dian Kristiyanto, menegaskan pentingnya menjaga ekosistem pesisir secara berkelanjutan.
“Pesisir dan laut merupakan bagian penting dari ekosistem sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, penjagaannya perlu dilakukan secara konsisten dan kolaboratif,” katanya.
Rangkaian kegiatan di Ternate dan Kawasi menunjukkan pola yang sama, yakni keberlanjutan lingkungan dibangun dari kesadaran, tindakan nyata, kolaborasi, serta kebiasaan yang dilakukan secara berulang.
Dengan pendekatan tersebut, upaya menjaga lingkungan tidak berhenti pada momentum sesaat, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. (Rey)