H. Rizal Marsaoly
Penulis: Rahman Mustafa, Alumni Ilmu Pemerintahan UMMU Ternate
Bayangan Max Weber tentang birokrasi sebagai mesin rasional yang tertib masih menjadi rujukan klasik hingga hari ini. Namun dalam praktik di banyak daerah, mesin itu kerap kehilangan kelenturannya terlalu kaku untuk melayani. Di tengah situasi itu, dari Ternate, muncul pendekatan yang sederhana tapi mengganggu kenyamanan lama “Bersinergi Itu Energi.”
Dr. Rizal Marsaoly, seorang birokrat karier yang kini menjabat Sekretaris Daerah, membaca persoalan bukan pada kurangnya kerja, melainkan pada energi yang tidak saling terhubung. Birokrasi, dalam banyak kasus, terlihat sibuk rapat digelar, laporan ditumpuk, program disusun namun bergerak tanpa arah yang padu. Fenomena “sibuk tapi tidak bergerak” menjadi penyakit laten, energi besar, tapi tercerai-berai.
Dari kegelisahan itulah lahir sebuah terobosan yang ia sebut “Rabu Menyapa.” Bukan sekadar agenda kunjungan rutin, melainkan ruang intervensi langsung terhadap budaya kerja birokrasi. Setiap pekan, Rizal turun ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tidak sendiri, tetapi bersama lintas pimpinan dinas. Mereka duduk bersama, membedah persoalan di tempat, memotong jalur koordinasi yang berbelit, dan memaksa komunikasi yang selama ini tersumbat untuk mengalir.
Di forum ini, ego sektoral dipreteli. Tidak ada lagi ruang aman untuk melempar tanggung jawab. Data yang sebelumnya tersekat dipertemukan, masalah diurai secara kolektif, dan solusi dirumuskan dalam satu napas. Birokrasi yang biasanya berjalan sendiri-sendiri dipaksa menjadi satu orkestrasi kerja.
Pendekatan ini menarik jika dibaca dalam peta pemikiran administrasi publik. Jika Max Weber menekankan struktur dan rasionalitas, maka Rizal menambahkan unsur kelenturan dan konektivitas. Ia seolah melanjutkan semangat Woodrow Wilson tentang efektivitas pemerintahan, tetapi dengan tafsir baru, efektivitas di era kini hanya mungkin jika ada keterhubungan lintas sektor.
Lebih jauh lagi, gagasan ini beririsan dengan konsep Reinventing Government yang dipopulerkan David Osborne dan Ted Gaebler bahwa pemerintah seharusnya tidak hanya menjadi pengendali, tetapi katalisator. Dalam konteks ini, Rizal berperan bukan sebagai “atasan” yang memerintah dari jauh, melainkan sebagai dirigen yang memastikan seluruh instrumen birokrasi bekerja dalam harmoni.
Jika ditarik lebih luas, pendekatan ini mengingatkan pada praktik kepemimpinan Lee Kuan Yew dalam membangun Singapura. Keberhasilan itu bukan hanya soal institusi kuat, tetapi kemampuan menyinergikan seluruh elemen negara dalam satu sistem yang presisi. Negara tidak berjalan sebagai bagian-bagian terpisah, melainkan sebagai satu tubuh yang utuh.
Apa yang dilakukan Rizal di Ternate bisa dibaca sebagai upaya menghadirkan semangat “satu sistem” itu dalam skala kota. Melalui Rabu Menyapa, ia memastikan energi birokrasi tidak habis dalam gesekan internal, tetapi diarahkan sepenuhnya pada pelayanan publik.
Pada titik ini, “Bersinergi Itu Energi” tidak lagi sekadar slogan. Ia menjelma menjadi metode kerja cara berpikir sekaligus cara bertindak. Ketika sekat-sekat runtuh, sesuatu yang berbeda mulai tampak bahwa pelayanan lebih cepat, program lebih tepat sasaran, dan dampak mulai terasa oleh masyarakat.
Rizal Marsaoly menunjukkan bahwa sinergi bukanlah retorika yang berhenti di spanduk atau pidato. Ini adalah praktik yang bisa diukur, dirasakan, dan direplikasi. Dalam lanskap birokrasi modern, pemimpin tidak lagi cukup menjadi pengendali, tapi harus menjadi penghubung.
Dan ketika koneksi itu terbangun, energi tidak perlu dicari. Ia akan muncul dengan sendirinya mengalir, menyatu, dan bergerak. Di Ternate, energi itu kini sedang menemukan bentuknya yang paling nyata bahwa birokrasi yang bekerja bersama, untuk melayani dengan hati yang terhubung.(***)