Kepala Bappelitbangda Kota Ternate, Ir. Thamrin Marsaoly
TERNATE, GO RMC.ID-Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate berencana melaksanakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Anak mulai tahun 2027 sebagai upaya memperluas partisipasi generasi muda dalam pembangunan daerah.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Ternate, Thamrin Marsaoly, mengatakan Musrenbang Anak akan menjadi ruang khusus bagi anak-anak untuk menyampaikan ide, gagasan, dan aspirasi mereka.
“Kami berencana tahun depan membuat satu musrenbang baru, yaitu Musrenbang Anak. Kegiatan ini nantinya berada di bawah koordinasi DP3A,” ujar Thamrin Marsaoly kepada GO RMC.ID, Minggu (3/5/2026).
Menurutnya, rencana ini merupakan implementasi dari Peraturan Daerah tentang Kota Ternate Ramah Anak, yang menekankan pentingnya keterlibatan anak dalam proses pembangunan.
“Anak-anak adalah generasi emas. Mereka harus diberi ruang untuk berkreasi dan menyampaikan pemikiran bagi pembangunan daerah,” tambahnya.
Sebelumnya, Pemkot Ternate telah lebih dulu menghadirkan Musrenbang Komunitas sebagai wadah bagi kalangan muda untuk berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan. Program ini bahkan telah berjalan selama empat tahun terakhir.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly, menjelaskan bahwa Musrenbang Komunitas atau Ternate Youth Planner bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang kolaborasi yang nyata.
“Kenapa forum ini penting? Karena membangun kota tidak bisa hanya pemerintah sendiri. Harus ada pelibatan pemuda secara resmi dalam proses perencanaan,” jelas Rizal.
Ia menambahkan, setiap ide yang dihasilkan dalam forum tersebut tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dirumuskan menjadi bagian dari dokumen perencanaan dan diusulkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Tradisinya, hasil dari Ternate Youth Planner direkomendasikan dan diramu menjadi bagian dari alokasi APBD. Ini bukti bahwa ruang komunitas kepemudaan harus diakomodasi,” katanya.
Rizal juga menekankan pentingnya orientasi dampak dalam setiap perencanaan pembangunan ke depan.
“Kita tidak lagi bicara sebatas output. Yang utama adalah bagaimana setiap program memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan,” tegasnya. (Rey)