TERNATE,GO RMC.ID-Meski Maluku Utara kembali mencatat sejarah dengan pertumbuhan ekonomi fantastis mencapai 39,10 persen, kontribusinya terhadap perekonomian nasional masih sangat kecil, yakni hanya 0,43 persen dari total PDB Indonesia.
Angka itu belum mampu menembus 1 persen, sehingga lonjakan Malut tidak cukup mengangkat kinerja ekonomi nasional secara signifikan.
Pengamat ekonomi Maluku Utara, Mukhtar Adam, menyebut kondisi ini sebagai gambaran nyata ketimpangan struktural ekonomi Indonesia yang sangat bergantung pada empat provinsi raksasa di Pulau Jawa, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
“Selama provinsi-provinsi yang menguasai lima besar ekonomi nasional tumbuh positif, ekonomi nasional pasti ikut tumbuh. Tapi jika mereka turun, ekonomi nasional bisa tumbang.” ujar Mukhtar Adam kepada foresindonesia, Kamis (20/11/2025).
Indonesia pada triwulan terakhir tumbuh 5,04 persen, namun pertumbuhan tersebut terutama digerakkan oleh pusat-pusat ekonomi besar di Jawa, bukan oleh provinsi-provinsi dengan pertumbuhan tertinggi seperti Maluku Utara.
Menurut Mohtar, dominasi struktur ekonomi nasional berada pada provinsi kontinental yang konsentrasinya terpusat di satu daratan. Hal inilah yang membuat interaksi ekonomi di Jawa lebih efisien dan produktif.
“Ketika Jakarta tumbuh, efeknya langsung terasa ke Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga DIY. Tapi Maluku Utara berbeda. Walaupun Halmahera tumbuh pesat, efeknya tidak mengalir signifikan ke 57 pulau berpenghuni lainnya.” jelasnya.
Kondisi geografis ini menyebabkan pertumbuhan ekstrem Malut tidak memberikan efek berantai yang kuat, baik terhadap provinsi lain maupun terhadap perekonomian nasional.

Mukhtar juga memotret posisi Indonesia dalam konteks global. Saat Amerika Serikat menguasai 26,1 persen ekonomi dunia, disusul Tiongkok, Jerman, Jepang, India, Inggris, dan Prancis, maka Indonesia hanya menyumbang 1,23 persen terhadap total ekonomi global.
Menurutnya, negara-negara besar yang mengalami pertumbuhan tinggi adalah negara yang mampu mengonsolidasikan penduduknya di satu daratan secara efektif.
“Amerika, China, dan Jepang bisa tumbuh karena populasi mereka terkonsolidasi kuat. Jepang memang negara kepulauan, tapi pulau yang dihuni hanya ratusan. Indonesia punya ribuan pulau, dan 6.000 pulau di antaranya berpenghuni.”
Walaupun Indonesia termasuk negara berpenduduk terbesar ke-5 di dunia, jumlah penduduk besar itu tidak otomatis meningkatkan produktivitas ekonomi.
“Populasi besar tidak cukup mendorong ekonomi jika terpencar di 6.000 pulau. Karena itu Indonesia membutuhkan waktu setidaknya 15 tahun untuk naik dari negara berkembang menjadi negara berpendapatan menengah-atas.” jelas Mukhtar.
Dengan demikian, pertumbuhan besar Maluku Utara sekalipun mencolok dan menjadi yang tertinggi di Indonesia belum cukup menembus dominasi struktur ekonomi nasional yang terpusat di Pulau Jawa.
Mukhtar menyebut, tanpa konsolidasi wilayah, integrasi pasar, dan efisiensi tata ruang, pertumbuhan daerah hanya akan menjadi lonjakan lokal yang tidak berpengaruh signifikan pada arah ekonomi Indonesia, tutupnya. (Rey)