Sumber data: Litbang Halmahera Post
TERNATE,GO RMC.ID-Peta awal kontestasi politik menuju Pemilihan Wali Kota Ternate 2030 mulai terbaca. Hasil survei Litbang Halmahera Post periode November-Desember 2025 menunjukkan Rizal Marsaoly tampil dominan dalam dua indikator penting politik elektoral, yakni popularitas dan likeabilitas, mengungguli tujuh tokoh potensial lainnya.
Survei ini mengukur sejauh mana tokoh-tokoh publik dikenal masyarakat serta tingkat kesukaan publik terhadap figur yang bersangkutan.
Hasilnya, Rizal Marsaoly mencatat popularitas tertinggi sebesar 89 persen dan likeabilitas 85 persen, menjadikannya figur paling kuat secara persepsi publik dalam simulasi awal Pilkada Ternate 2030.
Capaian tersebut menempatkan Rizal jauh di atas kandidat lainnya, dengan jarak yang cukup signifikan. Selisih tipis antara popularitas dan likeabilitas Rizal menunjukkan bahwa tingkat penolakan publik terhadap figur ini relatif rendah, sekaligus menandakan penerimaan yang luas di berbagai segmen masyarakat Kota Ternate.
Di posisi kedua, Nasri Abubakar mencatat popularitas 70 persen dan likeabilitas 61 persen. Angka ini menunjukkan Nasri termasuk figur yang cukup dikenal dan disukai, meskipun jaraknya dengan Rizal masih terpaut cukup jauh.
Sementara itu, Zulkifli H. Umar berada di urutan berikutnya dengan 65 persen popularitas dan 60 persen likeabilitas. Capaian ini menempatkan Zulkifli sebagai salah satu figur dengan basis penerimaan publik yang relatif stabil dan berpotensi dikembangkan apabila didukung oleh strategi politik yang tepat.
Tokoh lain yang juga masuk dalam kategori menengah adalah Abubakar Abdullah dengan 63 persen popularitas dan 52 persen likeabilitas, serta Husni Bopeng yang memperoleh 60 persen popularitas dan 48 persen likeabilitas. Keduanya dikenal publik, namun tingkat kesukaan masyarakat masih berada di bawah kelompok teratas.
Nama Muhajirin Bailusy mencatat 57 persen popularitas dan 48 persen likeabilitas, sedangkan tokoh perempuan Nurlela Sarif memperoleh 55 persen popularitas dan 47 persen likeabilitas.
Kehadiran Nurlela menjadi catatan tersendiri karena menunjukkan keterwakilan figur perempuan dalam bursa bakal calon, meskipun masih menghadapi tantangan dalam memperluas penerimaan publik.
Adapun Jasman Abubakar berada di posisi terakhir dengan 50 persen popularitas dan 42 persen likeabilitas. Hasil ini menunjukkan bahwa separuh responden mengenal Jasman, namun tingkat kesukaannya masih perlu diperkuat jika ingin bersaing di level atas.
Litbang Halmahera Post menilai hasil survei ini mencerminkan keunggulan figur birokrat aktif dan tokoh yang intens berinteraksi dengan publik.
Tingginya popularitas Rizal Marsaoly dinilai tidak lepas dari posisinya sebagai Sekretaris Daerah Kota Ternate, yang secara struktural dan fungsional bersentuhan langsung dengan kebijakan publik, pelayanan masyarakat, serta aktivitas pemerintahan sehari-hari.
Namun demikian, survei ini juga menegaskan bahwa popularitas dan likeabilitas bukanlah elektabilitas. Kedua indikator tersebut baru menggambarkan modal awal persepsi publik, bukan pilihan politik final pemilih. Faktor kendaraan partai, pasangan calon, isu strategis, serta dinamika sosial-politik lima tahun ke depan akan sangat menentukan hasil akhir Pilkada 2030.
Dengan waktu yang cukup panjang menuju 2030, peta politik Ternate dinilai masih sangat cair. Tokoh-tokoh dengan popularitas menengah masih memiliki ruang untuk meningkatkan citra, memperluas jaringan, dan membangun kedekatan emosional dengan pemilih.
Survei ini menjadi alarm awal bagi para bakal calon bahwa siapa yang sudah berada di puncak, siapa yang berada di papan tengah, dan siapa yang harus bekerja lebih keras.
Bagi publik, hasil survei ini memberi gambaran awal tentang arah dan potensi kontestasi politik Ternate di masa depan.
Litbang Halmahera Post menegaskan bahwa survei ini merupakan potret sementara, yang akan terus berubah seiring dinamika politik lokal, kinerja tokoh, serta respons masyarakat terhadap isu-isu strategis Kota Ternate. (Tim)