Suasana diskusi KAHMI Maluku Utara di Cafe Sabeba, Minggu (7/12/2025).
TERNATE, GO RMC.ID-Perdebatan dua konsep besar pembangunan konektivitas di Maluku Utara mengemuka dalam Diskusi KAHMI Maluku Utara, yang mempertemukan dua pendekatan berbeda, yakni Trans Kieraha dan Trans Maritim.
Kedua gagasan itu dinilai berpotensi menentukan arah pembangunan jangka panjang provinsi kepulauan tersebut.
Dalam forum yang berlangsung dinamis itu, Dr. Mukhtar Adam dari ISNU Malut mempresentasikan gagasan Trans Kieraha, sebuah konsep konektivitas darat yang menghubungkan Halmahera dan pulau-pulau besar lainnya melalui jalur lintas daratan.
“Wilayah ini butuh keterhubungan darat yang solid. Tanpa itu, kita tidak akan pernah punya rantai ekonomi yang stabil di daratan,” tegas Mukhtar dalam forum diskusi yang diselenggarakan KAHMI Malut di Cafe Sabeba, Minggu (7/12/2024).
Ia menilai pembangunan jalur darat akan membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru, mendorong investasi, dan menurunkan biaya logistik yang selama ini masih ditanggung masyarakat Halmahera.
Sementara itu, Trans Maritim disampaikan oleh Ishak Naser berdasarkan hasil kajian KAHMI yang menempatkan konektivitas laut sebagai prioritas utama.
Konsep ini memperkuat rute pelayaran, pelabuhan penghubung, serta sistem logistik antarpulau berbasis maritim.
“Kita provinsi kepulauan. Maka logis jika konektivitasnya bertumpu pada laut. Biayanya lebih rendah, implementasinya lebih cepat, dan manfaatnya langsung dirasakan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Perbedaan dua gagasan tersebut membuat diskusi semakin hangat. Peserta forum menilai keduanya memiliki nilai strategis, namun membutuhkan kajian lebih matang terkait aspek biaya, dampak lingkungan, efektivitas pembangunan, serta kesiapan pemerintah daerah.
Meski tanpa kesimpulan final, forum sepakat bahwa perdebatan Trans Kieraha vs Trans Maritim merupakan diskursus penting bagi masa depan Maluku Utara.
Peserta mengingatkan agar keputusan terkait konektivitas tidak menjadi proyek politis sesaat, melainkan kebijakan berbasis kebutuhan masyarakat.
Perdebatan ini diperkirakan akan terus bergulir, mengingat kedua konsep mewakili dua pendekatan fundamental pembangunan di wilayah kepulauan: memperkuat konektivitas darat atau mengoptimalkan jalur laut.(Tim)