GO RMC.ID-Laju pertumbuhan ekonomi Maluku Utara dalam empat tahun terakhir bukan hanya mengubah wajah industri di kawasan timur Indonesia, tetapi juga memberi efek berganda yang sangat besar bagi provinsi tetangganya, Sulawesi Utara (Sulut).
Dengan posisi strategis sebagai pusat logistik dan jasa, Sulut menjadi daerah yang paling menikmati limpahan ekonomi dari ekspansi tambang dan industri pengolahan nikel di Malut.
Pelabuhan Bitung menjadi simpul utama hubungan kedua provinsi. Pelabuhan ini berfungsi sebagai pintu logistik utama yang menyalurkan arus barang ke kawasan industri Halmahera.
Selama 2021-2024, kapasitas dan pergerakan kontainer meningkat tajam, seiring meningkatnya kebutuhan material industri serta suplai barang konsumsi bagi ribuan pekerja tambang yang masuk ke Maluku Utara.
Industri perdagangan dan hortikultura Sulut ikut terdorong. Produk hortikultura, pangan, dan kebutuhan rumah tangga terus mengalir menuju Malut, yang kini menampung lebih dari 100 ribu tenaga kerja baru di kawasan industri pertambangan dan smelter.
Lonjakan permintaan dari Malut ini membuat pasar Sulut tumbuh stabil dan lebih besar dalam empat tahun terakhir.
Rute perdagangan Manado-Ternate serta Bitung-Ternate menjadi jalur paling sibuk, disusul rute ke Halmahera.
Peningkatan arus barang dan mobilisasi pekerja membuat sektor jasa Sulawesi Utara seperti kesehatan, pariwisata, pergudangan, dan logistik menikmati permintaan tambahan yang signifikan.
Kondisi ini tercermin jelas pada pertumbuhan ekonomi Sulut. Pada 2020, PDRB Sulut tercatat Rp 132,23 triliun dan naik menjadi Rp 187,37 triliun pada 2024, tumbuh 42,6 persen dalam empat tahun.
Kestabilan dan konsistensi pertumbuhan tersebut merupakan indikator kuat bahwa geliat ekonomi Malut memberikan kontribusi langsung terhadap ekonomi Sulut.
Ekonom Maluku Utara, Mukhtar Adam, menegaskan bahwa hubungan ekonomi kedua provinsi sudah lama terbangun, namun empat tahun terakhir memperlihatkan peningkatan yang paling drastis.
“Sulawesi Utara adalah penumpang paling nyaman dari ledakan ekonomi Maluku Utara. Hampir semua lonjakan permintaan barang, logistik, dan jasa di Malut berlabuhnya ke Sulut,” ujar Mukhtar Adam kepada media ini, Rabu (19/11/2025).
Ia menyebut bahwa dampak ekonomi ini tidak simetris, Malut yang memproduksi, Sulut yang memanen banyak keuntungan dari perputaran dagang dan layanan.
“Ketika Maluku Utara tumbuh karena industri nikel, maka Sulut ikut tumbuh bukan karena industrinya sendiri, tetapi karena melayani kebutuhan Malut. Ini fenomena ekonomi regional yang sangat menarik,” tambahnya.
Mukhtar menilai hubungan ini ke depan akan semakin erat jika infrastruktur Bitung terus ditingkatkan dan rute perdagangan semakin diperluas.
“Kalau aktivitas tambang Malut terus meningkat, maka Sulut akan terus berada di garis depan sebagai penerima berkah terbesar,” tegasnya.
Dengan indikator ekonomi yang bergerak sejalan, para pengamat menyimpulkan bahwa Sulawesi Utara adalah provinsi yang paling menikmati pertumbuhan eksplosif Maluku Utara.
Hubungan dagang dan logistik yang terintegrasi membuat kedua wilayah nyaris tidak bisa dipisahkan dalam peta ekonomi kawasan timur Indonesia. (Tim)